Penyebab Demo Besar Iran 2026: Inflasi 40% & Krisis Rial

By Administrator 03 Jan 2026, 11:05:38 WITA Internasional
Penyebab Demo Besar Iran 2026: Inflasi 40% & Krisis Rial

TEHERAN – Gelombang protes besar yang mengguncang Iran selama lima hari terakhir kini memasuki fase kritis. Krisis ekonomi yang dipicu jatuhnya nilai tukar Rial ke rekor terendah—menyentuh 1,4 juta rial per 1 dollar AS—telah memicu kemarahan publik yang awalnya dimotori oleh kaum pedagang, namun kini meluas menjadi gerakan politik nasional.

Sebagai perbandingan, pada tahun 2022 nilai tukar masih berada di angka 430.000 rial, dan hanya 32.000 rial saat perjanjian nuklir 2015 masih berlaku. Kejatuhan mata uang yang dibarengi inflasi menembus 40 persen ini telah membuat harga pangan dan bahan bakar melambung di luar jangkauan rakyat jelata.

Menanggapi situasi yang kian memanas, Presiden Masoud Pezeshkian melakukan langkah darurat dengan merombak jajaran otoritas moneter. Pezeshkian menunjuk Abdolnasser Hemmati sebagai Gubernur Bank Sentral Iran yang baru, menggantikan Mohammad Reza Farzin yang mundur di tengah badai krisis.

Baca Lainnya :

Dalam pidato televisinya, Pezeshkian yang dikenal sebagai sosok reformis, menggunakan pendekatan religius untuk merangkul emosi rakyat. "Dari perspektif Islam, jika kita tidak menyelesaikan persoalan penghidupan rakyat, kita akan berakhir di neraka," ujarnya. Namun, itikad baik ini dibayangi oleh pernyataan keras Jaksa Agung Mohammad Movahedi Azad yang memperingatkan "reaksi keras" jika protes ekonomi berubah menjadi perusakan fasilitas umum atau ditunggangi pihak asing.

Keresahan di bazar-bazar Teheran, Shiraz, dan Kermanshah kini berganti menjadi tangisan duka. Laporan dari Fars News Agency menyebutkan setidaknya lima warga sipil tewas dalam bentrokan langsung dengan aparat di Kota Lordegan dan Azna.

Di sisi lain, otoritas keamanan melaporkan kematian pertama dari pihak mereka. Seorang relawan pasukan Basij berusia 21 tahun dilaporkan tewas di Kota Kuhdasht. Kematian aparat ini dikhawatirkan oleh para aktivis HAM akan menjadi legitimasi bagi negara untuk melakukan pembersihan massal, serupa dengan tindakan represif pada protes Mahsa Amini tahun 2022 lalu.

Para ekonom menilai, perubahan harga bahan bakar yang diterapkan pemerintah baru-baru ini menjadi jerat terakhir bagi ketahanan rumah tangga di Iran. Sanksi Barat terkait program nuklir yang belum kunjung usai membuat ruang gerak ekonomi Iran semakin sempit.

Situasi saat ini menjadi ujian terbesar bagi pemerintahan Pezeshkian. Banyak pengamat menilai, jika perubahan gubernur bank sentral tidak segera diikuti dengan stabilitas harga kebutuhan pokok, seruan "protes ekonomi" akan sepenuhnya bertransformasi menjadi tantangan langsung terhadap sistem teokrasi Iran. 

Sumber : Reuters




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment