Xi Jinping Paparkan Visi Asia-Pasifik: Dorong Era Baru Keterbukaan dan Integrasi Ekonomi
Tantangan Ekonomi Asia-Pasifik dan Pentingnya Kolaborasi

By High Admin KaltaNOVA 03 Des 2025, 11:07:01 WITA Internasional
Xi Jinping Paparkan Visi Asia-Pasifik: Dorong Era Baru Keterbukaan dan Integrasi Ekonomi

Superakaltara - Menjelang Pertemuan Pemimpin Ekonomi APEC ke-32 di Korea Selatan, Presiden China Xi Jinping kembali menegaskan arah kebijakan luar negeri dan ekonominya: memperkuat keterbukaan, meningkatkan konektivitas, serta memperdalam kerja sama kawasan Asia-Pasifik. Di tengah guncangan geopolitik dan perlambatan ekonomi global, kehadiran Xi menjadi momentum penting untuk membangun kembali konsensus regional demi pertumbuhan yang inklusif.

Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan kawasan Asia-Pasifik turun dari 4,5 persen pada 2025 menjadi 4,1 persen pada 2026. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa stabilitas kawasan hanya dapat dicapai melalui kerja sama yang erat. Karena itu, forum APEC menjadi ruang strategis bagi para pemimpin untuk merumuskan solusi menghadapi risiko perdagangan, fragmentasi rantai pasok, serta ketidakpastian global.

Xi diperkirakan akan meneguhkan kembali visinya tentang Asia-Pasifik yang terbuka dan inklusif—sebuah kawasan yang bukan hanya pusat pertumbuhan, tetapi motor utama pemulihan ekonomi dunia.

Baca Lainnya :

Pada 2025, APEC mewakili lebih dari 60 persen PDB global, menjadikannya kawasan dengan pengaruh ekonomi terbesar. China menempatkan Asia-Pasifik sebagai prioritas utama dalam memperluas perdagangan bebas. Dari 20 anggota APEC lainnya, 15 negara kini telah memiliki perjanjian kemitraan perdagangan bebas (FTA) dengan China.

Malaysia menjadi salah satu contoh yang menonjol. Selama 16 tahun berturut-turut, China menjadi mitra dagang terbesar Malaysia. Popularitas durian Malaysia di pasar China bahkan membuat pengiriman buah tersebut dapat tiba dalam 24 jam langsung dari kebun, menunjukkan integrasi rantai pasok kedua negara semakin efisien.

Pada 2024, nilai perdagangan China–Malaysia mencapai 212 miliar dolar AS (sekitar Rp3.525 triliun), sekalipun dunia tengah mengalami perlambatan ekonomi.

Sejak pertama kali hadir di forum APEC pada 2013, Xi terus mendorong pembentukan kerangka kerja sama regional di kedua sisi Samudra Pasifik. Salah satu tonggak terpenting adalah pengesahan Peta Jalan Beijing pada 2014, yang menjadi langkah awal pembentukan Kawasan Perdagangan Bebas Asia-Pasifik (FTAAP).

Di bawah kepemimpinannya, China mendorong implementasi penuh RCEP—zona perdagangan bebas terbesar di dunia yang mencakup 15 negara Asia-Pasifik. Selain itu, perjanjian CAFTA 3.0 yang ditandatangani China dan ASEAN pada Oktober 2025 memperdalam integrasi ekonomi kawasan, memperkuat posisi Asia-Pasifik sebagai lokomotif pertumbuhan global.

Sekretaris Jenderal TCS Lee Hee-sup menyebut China memainkan peran strategis dalam berbagai mekanisme multilateral seperti RCEP, TCS, ASEAN+3, dan APEC. Ia menilai kepemimpinan China penting untuk menjaga momentum kerja sama ekonomi regional.

Kunjungan Xi ke APEC pada 2013 juga melahirkan gagasan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21, bagian penting dari Belt and Road Initiative (BRI). Setelah lebih dari satu dekade berjalan, BRI berkembang menjadi jaringan perdagangan dan infrastruktur internasional yang menghubungkan Asia, Eropa, hingga Amerika Latin.

Beberapa proyek ikonik antara lain:

-Kereta China–Laos
-Kereta cepat Jakarta–Bandung
-East Coast Rail Link Malaysia
-Kereta China–Thailand
-Pelabuhan Chancay di Peru, yang memangkas waktu pengiriman ke China menjadi 23 hari

Proyek-proyek ini mengukuhkan China sebagai pusat konektivitas fisik dan ekonomi global.

Xi menegaskan bahwa konektivitas tidak hanya sebatas infrastruktur fisik, tetapi juga pada stabilitas rantai pasok, kolaborasi industri, dan pertukaran budaya. Ia menolak pandangan bahwa saling ketergantungan adalah risiko. Menurutnya, kerja sama merupakan jalan untuk mencapai manfaat bersama.

Pesan itu ia sampaikan di hadapan lebih dari 40 CEO global pada Maret 2025 di Beijing. Xi menekankan pentingnya peran sektor swasta dan kemudahan investasi di China, yang mendapat apresiasi positif dari pelaku bisnis internasional.

Selain kerja sama ekonomi, Xi juga mengedepankan diplomasi budaya. Saat bertemu Presiden Chile Gabriel Boric pada APEC 2024 di Peru, keduanya membahas pentingnya pertukaran budaya sebagai jembatan antarnegara.

Di bidang lingkungan, China memperkuat kolaborasi dengan Brunei, termasuk melalui Pusat Perubahan Iklim ASEAN. Xi menilai Brunei dan China menjadi contoh bagaimana negara besar dan kecil dapat bekerja sama sebagai mitra setara.

APEC sejak awal didirikan untuk mendukung integrasi ekonomi dan keterbukaan. Xi menekankan bahwa semangat ini harus menjadi fondasi 30 tahun ke depan, sejalan dengan Visi Putrajaya 2040 untuk mewujudkan Asia-Pasifik yang terbuka, dinamis, tangguh, dan damai.

Mengutip pepatah China, Xi menyebut “kebaikan tertinggi bagaikan air yang memberi manfaat tanpa bersaing,” menggambarkan bahwa Samudra Pasifik cukup luas untuk semua negara.

Di tengah perubahan teknologi dan transisi menuju ekonomi hijau serta digital, Xi yakin kekuatan yang mendorong keterbukaan akan memenangkan tarik-menarik global.

“Selama kita bertindak dengan semangat keterbukaan dan konektivitas, Samudra Pasifik akan menjadi jalan bersama menuju kemakmuran,” ujarnya.





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment